Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
1770715584014
Pangkalpinang

Harga Sawit Tertekan, FORMAP Ungkap Penyebab dan Tuntut Solusi Nyata

×

Harga Sawit Tertekan, FORMAP Ungkap Penyebab dan Tuntut Solusi Nyata

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Tidak naiknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bangka Belitung menjadi sorotan serius. Ketua Forum Masyarakat Petani Babel (FORMAP), M. Syarif Hidayatullah, mengungkapkan sejumlah faktor penyebab sekaligus solusi yang perlu segera diambil pemerintah.

Dalam wawancara pada Sabtu (11/4/2026), Syarif menjelaskan bahwa sebelumnya pihak pabrik kelapa sawit (PKS) kerap beralasan rendahnya harga disebabkan oleh rendemen buah sawit dari petani yang dinilai masih rendah.

admin-ajax.png

“Dulu mereka selalu beralasan rendemen rendah. Maka dari itu kami mendorong pemerintah untuk membantu penyediaan pupuk berkualitas dan ramah lingkungan agar kualitas hasil sawit petani meningkat,” ujarnya.

Namun, kondisi terbaru justru menunjukkan alasan yang berbeda. Menurutnya, saat ini PKS mengalami kelebihan pasokan buah sawit dari petani.

“Sekarang alasannya surplus buah. Artinya TBS melimpah, pabrik kelebihan bahan baku. Ini sebenarnya kabar baik, tapi jadi masalah karena kapasitas pengolahan terbatas,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, FORMAB mendorong pemerintah daerah, baik kabupaten maupun kota, untuk proaktif mencari investor guna membangun pabrik kelapa sawit baru.

“Kami minta pemerintah jemput bola, carikan investor yang siap bangun PKS. Karena solusi dari kelebihan TBS ini ya menambah kapasitas pabrik,” tegasnya.

Ia menilai langkah ini penting agar petani tidak terus dirugikan akibat antrean panjang di pabrik dan harga jual yang rendah.

Terkait harga, Syarif menyebut bahwa harga TBS yang layak bagi petani berada di atas Rp3.000 per kilogram.

“Kalau menurut kami, harga yang pantas itu Rp3.000 ke atas,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya disparitas harga di berbagai daerah. Di Belitung, harga sawit disebut sudah berada di atas Rp3.000, bahkan di sejumlah provinsi lain mencapai Rp4.000 per kilogram.

“Ini yang jadi pertanyaan, kenapa di Bangka bisa berbeda? Apa bedanya dengan daerah lain?” ujarnya.

Menurutnya, sektor sawit memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Dalam satu kecamatan saja, perputaran uang dari hasil penjualan TBS bisa mencapai lebih dari Rp100 miliar.

“Kalau ini tidak segera ditangani, dampaknya besar ke kesejahteraan petani. Padahal masyarakat sudah berupaya meningkatkan produksi,” ungkapnya.

Selain itu, FORMAP juga mengusulkan agar pemerintah membuat regulasi yang mendorong hilirisasi sawit di Bangka Belitung.

“Kami minta minimal 20 persen dari hasil CPO bisa diolah menjadi produk turunan di daerah. Ini penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi,” katanya.

Ia berharap langkah-langkah strategis dari pemerintah dapat segera direalisasikan agar persoalan harga sawit tidak terus berlarut-larut.

“Intinya, kami ingin petani sawit rakyat di Bangka Belitung ini sejahtera dan masalahnya segera teratasi,” tutupnya.(RE)

error: Content is protected !!