Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Pangkalpinang

Akhmad Elvian Soroti Sungai dan Kawasan Bersejarah Pangkalpinang, Minta Saparudin Berbenah

×

Akhmad Elvian Soroti Sungai dan Kawasan Bersejarah Pangkalpinang, Minta Saparudin Berbenah

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Pembangunan Kota Pangkalpinang dinilai perlu memberi perhatian lebih terhadap keberadaan sungai dan kawasan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas kota. Budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, mengingatkan agar pembangunan tidak membuat warisan sejarah Pangkalpinang semakin terabaikan.

Sorotan itu disampaikan Elvian saat menghadiri Silaturahmi Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota Pangkalpinang Saparudin dan Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna di Taman Sari, Pangkalpinang, Jumat (16/10/2026).

admin-ajax.png

Menurut Elvian, pembangunan kota bersejarah harus berlandaskan pemahaman terhadap sejarah dan filosofi wilayah. Ia menilai karakter Pangkalpinang sebagai kota yang tumbuh bersama sungai perlu kembali menjadi perhatian dalam kebijakan penataan perkotaan.

Ia menyebut Sungai Rangkui dan Sungai Kedindang memiliki arti penting dalam perkembangan wilayah Pangkalpinang. Namun, keberadaan kedua sungai tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bagian dari identitas kota.

β€œPenanda kota sungai itu sudah dari tahun 1757 ketika Pangkalpinang ini terbentuk sampai dengan 2026, hampir tidak kita perhatikan sama sekali. Kita biarkan begitu saja sungai itu,” kata Elvian.

Ia juga menyinggung kondisi sungai yang menurutnya memprihatinkan, terutama saat musim kemarau. Bagi Elvian, sungai seharusnya tidak sekadar menjadi unsur geografis, tetapi juga bagian dari warisan sejarah yang perlu dijaga dan ditata.

Selain persoalan sungai, Elvian menyoroti perubahan karakter kawasan bersejarah Pangkalpinang. Ia mencontohkan Europe Wijk, kawasan yang pada masa kolonial Belanda dikenal memiliki tata ruang yang rapi dan teratur.

Menurutnya, kawasan yang dahulu memiliki keteraturan tersebut kini semakin padat oleh aktivitas masyarakat. Kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menata ruang kota tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.

β€œKalau membangun kota bersejarah, harus berbasis sejarah, berbasis filosofis,” ujarnya.

Di sisi lain, Elvian memberikan apresiasi terhadap arah pembangunan yang dijalankan Saparudin dan Dessy Ayutrisna selama satu tahun pertama kepemimpinan mereka.

Ia menilai pendekatan yang menitikberatkan pada kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, sudah tepat. Menurutnya, keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya bangunan monumental yang berdiri, tetapi harus dilihat dari manfaat pembangunan bagi warga.

β€œKeberhasilan pembangunan itu bermuara kepada kesejahteraan masyarakat. Jadi, kebutuhan dasar masyarakat itu yang pertama-tama harus kita perhatikan,” katanya.

Elvian juga mengingatkan Saparudin agar terus mempercepat pelaksanaan program pembangunan selama empat tahun ke depan. Ia meminta agar periode tersebut tidak disebut sebagai masa yang tersisa, melainkan kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan dan menghasilkan perubahan nyata.

β€œJangan ada istilah sisa. Jadi harus gas terus, Profesor,” ucapnya.

Ia turut menekankan pentingnya sikap terbuka seorang pemimpin dalam menerima aspirasi masyarakat. Menurut Elvian, pengalaman Saparudin sebagai akademisi perlu diimbangi dengan kemauan untuk mendengarkan berbagai pandangan warga.

β€œSebagai Profesor Wali Kota, Pak Wali harus banyak mendengar. Karena berbeda ketika kita menjadi dosen dan ketika kita menjadi pemimpin. Kalau rakyat, kita harus banyak mendengar,” ujarnya. (RE)

banner nidia kcl.png