Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Pangkalpinang

SMSI Babel Ingatkan Mahasiswa: Kripto Bukan Sekadar Tren, Risikonya Harus Dipahami

×

SMSI Babel Ingatkan Mahasiswa: Kripto Bukan Sekadar Tren, Risikonya Harus Dipahami

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Aset kripto semakin mudah diakses seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital. Namun, di balik kemudahan transaksi dan peluang keuntungan, terdapat risiko finansial yang tidak boleh diabaikan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Literasi Aset Kripto dan Ekonomi Digital yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Universitas Bangka Belitung (UBB) di Gedung FKIK UBB, Selasa (22/9/2026).

admin-ajax.png

Ketua SMSI Babel Bardian Zakaria, S.T.P., mengatakan perkembangan ekonomi digital merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Namun, kemajuan teknologi harus dibarengi dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak hanya memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengetahui risiko di baliknya.

“Semakin tinggi teknologi, semakin rentan akan risiko terhadap diri kita. Makanya seminar-seminar seperti ini harus benar-benar bisa membawa kita pada penyadaran bahwa setiap langkah yang kita hadapi mempunyai risiko, apalagi kita berbicara tentang masalah keuangan,” kata Bardian.

Menurut dia, perubahan pola transaksi masyarakat menjadi gambaran nyata bagaimana teknologi telah mengubah kehidupan sehari-hari. Jika dahulu transaksi identik dengan uang tunai, kini berbagai kebutuhan dapat dibayar hanya menggunakan telepon seluler.

Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kewaspadaan.

“Jangan hanya melihat canggihnya teknologi. Kita juga harus memahami risikonya,” tegasnya.

Bardian menilai pemahaman mengenai risiko menjadi semakin penting ketika teknologi bersentuhan langsung dengan sektor keuangan. Terlebih, informasi mengenai aset kripto dan investasi digital kini begitu mudah ditemukan di media sosial, yang tidak semuanya memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas yang sama.

Seminar tersebut menghadirkan perspektif dari regulator, industri, akademisi dan pelaku teknologi. Hadir mewakili Rektor UBB, Wakil Rektor III UBB Dr. Hamsani, S.E., M.Sc., serta Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Muhammad Faisal Akbar, S.E., M.S.E.

Sementara narasumber yang dihadirkan yakni Presiden Direktur Pintu Andy Putra, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rifki Ismail, Asisten Manager Bagian Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Moh sahrul nizam, serta Head of DigiCoreTech Haiqal.

Peserta kegiatan mayoritas merupakan mahasiswa UBB, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Bisnis Digital angkatan 2024–2025. Mereka diajak memahami perkembangan aset kripto, ekonomi digital, teknologi, regulasi hingga aspek perlindungan konsumen.

Menurut Bardian, keterlibatan berbagai pihak menjadi penting karena perkembangan ekonomi digital tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang.

“Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter, OJK melindungi masyarakat dari risiko keuangan, Pintu membawa pengalaman nyata dari dunia kripto, dan akademisi memberikan perspektif keilmuan,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa tidak berhenti sebagai konsumen informasi yang mengikuti tren investasi di media sosial. Generasi muda, kata dia, perlu memiliki kemampuan memilah informasi, memahami mekanisme aset digital serta menghitung risiko sebelum mengambil keputusan keuangan.

“Harapan kita sederhana. Para peserta dan masyarakat Bangka Belitung bisa semakin melek digital, semakin bijak dalam memahami aset kripto, dan semakin siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan,” katanya.

Wakil Rektor III UBB Dr. Hamsani, S.E., M.Sc. mengapresiasi SMSI Babel dan seluruh pihak yang memilih UBB sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, pembahasan mengenai ekonomi digital relevan dengan perkembangan dunia pendidikan dan kebutuhan mahasiswa di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Bagi SMSI Babel, seminar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi publik melalui kolaborasi media, perguruan tinggi, regulator dan pelaku industri.

Di tengah derasnya informasi mengenai investasi dan teknologi digital, melek teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga harus melek risiko.(RE)

banner nidia kcl.png