Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Pangkalpinang

Cuan Bisa Berlipat, Amblas Juga Bisa Sekejap: Pintu Ingatkan Mahasiswa Babel Jangan Terjebak FOMO Kripto

×

Cuan Bisa Berlipat, Amblas Juga Bisa Sekejap: Pintu Ingatkan Mahasiswa Babel Jangan Terjebak FOMO Kripto

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Iming-iming keuntungan besar membuat aset kripto semakin menarik bagi generasi muda. Namun, di balik peluang cuan yang berlipat, terdapat risiko kehilangan nilai aset dalam waktu singkat.

Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengingatkan mahasiswa di Bangka Belitung agar tidak menjadikan tren dan janji keuntungan sebagai alasan utama memasuki investasi kripto.

admin-ajax.png

Pesan itu disampaikan Andy saat menjadi narasumber Seminar Literasi Aset Kripto dan Ekonomi Digital yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Universitas Bangka Belitung (UBB) di Gedung FKIK UBB, Selasa (22/9/2026).

Andy menegaskan, kehadirannya dalam seminar tersebut bukan untuk mengajak mahasiswa membeli aset kripto. Menurut dia, literasi justru harus menjadi fondasi sebelum seseorang mengambil keputusan investasi.

β€œKami tidak melakukan ajakan untuk membeli, tetapi lebih untuk literasi karena literasi adalah sebuah dasar yang paling utama sebelum melakukan tindakan investasi,” kata Andy.

Ia menjelaskan, aset kripto merupakan aset digital yang menggunakan teknologi blockchain sebagai teknologi pencatatan transaksi. Di dalam ekosistem tersebut terdapat berbagai jenis aset dengan karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda.

Bitcoin, misalnya, kerap dianalogikan sebagai digital gold karena memiliki suplai maksimum 21 juta keping. Di luar Bitcoin, terdapat altcoin, token utilitas, meme coin hingga Real World Asset (RWA) yang menghubungkan aset digital dengan aset di dunia nyata.

Namun, Andy secara khusus meminta mahasiswa berhati-hati terhadap meme coin atau token yang populer disebut β€œtoken micin”.

Aset jenis tersebut dapat mengalami lonjakan harga dalam waktu cepat, tetapi pada saat yang sama juga dapat mengalami penurunan tajam.

β€œJangan karena FOMO. Kita harus tahu dan yakin apa token yang kita beli,” ujarnya.

Menurut Andy, potensi keuntungan yang tinggi selalu berjalan beriringan dengan risiko yang tinggi. Karena itu, investor harus memahami profil risikonya serta mempelajari aset sebelum menempatkan dana.

Ia bahkan membagikan pengalaman seorang staf Pintu yang pernah memperoleh keuntungan sangat besar dari investasi kripto. Namun, keuntungan tersebut tidak segera direalisasikan karena berharap harga terus meningkat. Ketika pasar berbalik, nilai aset pun kembali turun.

β€œInvestasi itu selain ada return, ada keuntungan, juga pasti ada risiko,” katanya.

Andy mengatakan perkembangan industri kripto saat ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli aset digital. Teknologi blockchain juga mulai berkembang ke arah tokenisasi aset dunia nyata atau RWA.

Menurut dia, emas, saham dan berbagai instrumen lainnya berpotensi ditokenisasi sehingga menciptakan bentuk baru dalam ekosistem keuangan digital.

Ia menyebut kapitalisasi pasar aset kripto berada di kisaran 2,6 triliun dolar AS. Angka tersebut masih berada di bawah kapitalisasi perusahaan seperti Apple dan jauh di bawah nilai pasar emas global.

Sementara di Indonesia, kata Andy, adopsi aset kripto juga terus berkembang. Ia menyebut Indonesia berada di posisi ketujuh dalam daftar negara dengan tingkat adopsi kripto yang tinggi, dengan jumlah investor mencapai sekitar 22 juta orang.

Kelompok usia muda masih menjadi bagian besar dari ekosistem tersebut, meskipun pengguna dari kelompok usia lebih tua mulai bertambah.

Di tengah pertumbuhan itu, Andy menilai regulasi dan perlindungan konsumen menjadi semakin penting. Seiring pengawasan aset keuangan digital berada di bawah OJK, industri kripto Indonesia memasuki fase regulasi yang lebih terstruktur.

Pedagang aset keuangan digital yang berizin juga diwajibkan mengikuti ketentuan terkait penyimpanan dana dan aset konsumen.

Karena itu, Andy mengingatkan mahasiswa agar tidak sembarangan memilih platform perdagangan aset kripto.

β€œKalau teman-teman bertransaksi di aplikasi yang sudah berizin di Indonesia, teman-teman mendapatkan perlindungan,” katanya.

Andy juga memaparkan perkembangan ekosistem Pintu, mulai dari aplikasi ritel, Pintu Pro bagi pengguna yang membutuhkan perangkat analisis lebih lanjut hingga produk derivatif. Ia menyebut Pintu telah memiliki lebih dari 400 token dan aplikasinya telah diunduh lebih dari 12 juta kali hingga September 2026.

Namun, banyaknya pilihan aset dan perkembangan platform, kata dia, tidak boleh menggeser hal paling mendasar dalam investasi: pengetahuan.

Mahasiswa diminta membangun keputusan investasi berdasarkan riset dan pemahaman, bukan sekadar mengikuti rekomendasi orang lain atau tren yang beredar di media sosial.

β€œInvestasi itu harus dilakukan secara dini, tapi keputusan investasi harus lahir melalui literasi atau pengetahuan. Bukan dari dengar-dengar orang atau kata orang, tetapi keputusan itu harus dibuat sendiri melalui riset yang sudah kita lakukan,” tegas Andy. (RE)

banner nidia kcl.png