Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Belitung Timur

Sampah Liar Jadi Bom Waktu Pangkalpinang, DLH Akui Kewalahan

×

Sampah Liar Jadi Bom Waktu Pangkalpinang, DLH Akui Kewalahan

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang , nidianews.com – Persoalan sampah liar di Kota Pangkalpinang kembali menjadi sorotan. Tumpukan sampah bermunculan di sejumlah lokasi yang bukan peruntukannya, bahkan setelah berulang kali dibersihkan dan diawasi menggunakan kamera CCTV.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang, Fahrizal, mengakui penanganan sampah liar masih menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah daerah. Titik-titik yang sudah dibersihkan kerap kembali dipenuhi sampah.

admin-ajax.png

“Memang kita kewalahan juga. Titik-titik itu-itu juga yang selalu jadi tempat pembuangan sampah liar,” ujar Fahrizal saat diwawancarai media, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, DLH telah melakukan berbagai langkah jangka pendek untuk menekan persoalan tersebut. Salah satunya dengan menggelar gotong royong rutin setiap Jumat dengan menyasar lokasi yang menjadi titik pembuangan sampah liar.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah sekitar Jalur Dua Ide Alva. Kawasan tersebut kembali ditemukan banyak sampah dan akan menjadi salah satu lokasi penanganan dalam kegiatan gotong royong DLH.

Namun, persoalan tidak berhenti pada pembersihan. Setelah petugas mengangkut sampah, masyarakat masih ditemukan membuang sampah di lokasi yang sama maupun berpindah ke titik lainnya.

Kondisi serupa terjadi di kawasan Jeramba Gantung. Bahkan setelah pemerintah memasang CCTV untuk mengawasi aktivitas pembuangan sampah, persoalan belum sepenuhnya teratasi.

“Yang sudah kita pasang CCTV pun titik sampahnya berpindah,” kata Fahrizal.

Di tengah persoalan tersebut, DLH juga mengakui keterbatasan armada pengangkutan. Pertumbuhan kawasan perumahan yang cukup masif membuat armada yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh wilayah Kota Pangkalpinang.

Padahal, pemerintah telah menyediakan layanan pengangkutan melalui armada DLH dan armada kelurahan. Sejumlah masyarakat juga secara swadaya ikut membantu pengangkutan sampah.

“Armada kita belum mampu menjangkau itu. Kami bersyukur ada beberapa swadaya yang bisa menjalankan fungsi pengangkutan,” ujarnya.

DLH selanjutnya berupaya menambah armada pengangkutan. Masyarakat juga akan terus didorong untuk memilah sampah dari rumah sehingga tidak seluruh sampah berakhir di tempat pembuangan.

Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pupuk maupun maggot. Sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai jual dapat disalurkan melalui bank sampah, pemulung atau pengepul.

Di sisi penindakan, Fahrizal mengatakan Pemkot Pangkalpinang telah memiliki Perda Ketertiban Umum yang dapat menjadi dasar pengaturan terkait perilaku masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.

Ia menilai penanganan sampah liar membutuhkan langkah yang lebih tegas agar menimbulkan efek jera.

“Ke depan memang harus ada langkah tegas untuk memberi efek jera kepada pelaku pembuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Fahrizal menggambarkan persoalan tersebut sebagai pekerjaan yang membutuhkan konsistensi. Pemerintah membersihkan, tetapi sampah kembali muncul sehingga siklus tersebut terus berulang.

“Kita bersihkan pun pasti berulang. Jadi tinggal nanti siapa yang menyerah duluan, antara pelaku pembuangan sampah ataupun pemerintah yang selaku regulator,” katanya.

Ia menilai keberadaan kawasan yang masih minim aktivitas masyarakat turut menjadi salah satu faktor munculnya titik pembuangan sampah liar.

Karena itu, selain mengandalkan pengawasan dan penindakan, perkembangan kawasan juga diharapkan dapat membuat masyarakat lebih segan menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat membuang sampah.

DLH memastikan penanganan sampah liar tetap menjadi agenda berkelanjutan, mulai dari pembersihan rutin, penguatan layanan pengangkutan, edukasi pemilahan sampah hingga upaya memberikan efek jera kepada pelanggar.(RE) 

banner nidia kcl.png