Scroll untuk baca artikel
banner promo atas.png
Example floating
Example floating
Banner 2
BUMN

Cerita dari Mapur: Di Gebong Memarong, PT TIMAH Membersamai Jejak Adat yang Tak Pernah Padam

×

Cerita dari Mapur: Di Gebong Memarong, PT TIMAH Membersamai Jejak Adat yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini

Bangka, nidianews.com-Siapa mencintai alam, tak akan membangun monumen. Hidup hanya untuk mencukupi, tak berlebih-lebihan, sebab prinsip melekat dengan alam jauh lebih penting. Karl Polanyi, salah satu pemikir ekonomi terbesar abad 20 menyebut cara hidup demikian sebagai suatu sistem sosial-ekonomi subsisten.

Di Bangka Belitung, kebudayaan dimulai dengan derap kaki menancap di ladang, atau tangan menjalin joran dan kail, atau tubuh yang mandi lumpur. Para antropolog dari era kolonial hingga kontemporer membagi masyarakat Bangka Belitung ke dalam 3 (tiga) kategori besar: orang bukit, orang darat, dan orang laut. Semua kategori punya mode produksi masing-masing.

admin-ajax.png

Ekspresi kebudayaan semacam itu menguat dalam peribahasa “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga”. Ada asam, ada garam semua terbagi-bagi; manusia dikelompokkan ke dalam unit kerja berbeda. Ada kelompok manusia yang menghasilkan asam di dataran tinggi; ada yang menghasilkan garam di pesisir pantai—mereka bertemu untuk bertukar; garam ditukar asam, ikan ditukar rempah. Struktur dan sistem sosial yang kompleks itulah cikal bakal ‘belanga’, apa yang hari ini kita sebut “Kepulauan Bangka Belitung”.

Anthony Giddens, dalam bukunya yang berjudul The Consequences of Modernity, mengasumsikan modernisme tak ubah ‘kereta baja’ (juggernaut) yang tak terkendali dan melibas segala apa yang ada di hadapan. Orang-orang dipaksa untuk bersepakat, lewat alat tukar yang sama, lewat uang, lewat cap mana yang modern dan tidak modern.

Mode produksi dalam aspek ekonomi berubah, standar sosial bergeser, nilai-nilai budaya mengalami komodifikasi. Tapi, kita tahu, tiap gelombang perubahan besar terjadi selalu ada elemen yang luput dan tidak berubah.

“Kami semua yang ada di sini, akan tetap menjaga alam, menjaga hutan yang makin hari makin tergerus” ungkap Ketua Lembaga Adat Mapur, Asih, dalam Ritual Adat Nujuh Jerami, di Kampung Adat Gebong Memarong, Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka pada 29 April 2026.

Kenyataannya, dalam catatan ekspedisi 1803 seorang Kolonial Belanda bernama Boogart, mereka memang sudah di situ. Dunia berubah, Hindia-Belanda kembali ke Eropa yang gersang, Indonesia Raya berkumandang, rezim berganti, dan mereka tetap di situ. Tapi, sampai kapan?

“Sampai hayat tak dikandung badan, bang!” Kata-kata itu diucapkan Jojo, salah seorang penghayat Adat Mapur yang senang guyon dan murah senyum.

Jojo berkisah, selain mereka yang berjumlah 100an jiwa dan menetap di Dusun Aik Abik, ada 150an sanak-saudara mereka yang masih hidup berpindah-pindah di Hutan Pejem.

“Mereka, seperti kami, juga sekolah. Bahkan ada beberapa yang sampai kuliah. Kami sering bertemu mereka kalau mau ada yang ditukar,” cerita Jojo.

Kebudayaan tak pernah konstan dan kekal, melainkan selalu dibentuk dan terbentuk oleh sederet penyesuaian. Charles Darwin, dalam The Origins of Species, tak pernah mengatakan bahwa yang kuatlah yang bertahan sebagaimana yang diyakini orang-orang dalam semboyan ‘the survival of the fittest’. Bukan yang kuat yang bertahan, menurut Darwin, melainkan yang mampu menyesuaikan dengan perubahan kosmik yang akan bertahan hingga akhir.

“Kami sudah melakukan Ritual Adat Nujuh Jerami ini sejak zaman kakek-nenek. Mungkin bisa lebih lama lagi. Bedanya mulai tahun 2017 sejak ada bantuan PT TIMAH banyak yang melihat, banyak yang tanya-tanya. Jadi sekarang lebih meriah karena ada pengeras suara, foto-foto, orang luar datang untuk nonton,” ujarnya.

Kini, ada kecenderungan manusia modern abad 21 untuk melihat adat dan tradisi sebagai sebentuk kebudayaan tinggi, yang seolah-olah berawal dan berakhir di warung kopi, etalase galeri, ruang-ruang seminar, dan naskah akademik. Kebudayaan jadi sesuatu yang senantiasa asyik untuk ditonton dan diperbincangkan, bukan dihayati.

Suka atau tidak, cara paling bijak untuk melestarikan kebudayaan adalah dengan membersamai masyarakat adat. PT TIMAH telah melakukan hal itu, berulang kali, sejak lama.

Seperti yang dituturkan Jojo, ritual Nujuh Jerami kian dikenal luas setelah mendapat dukungan dari PT TIMAH. Namun, yang dijaga bukan semata sebuah upacara, melainkan ingatan kolektif yang hidup di dalamnya jejak sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat adat terhadap alam dan kehidupan.

Ikhtiar itu mula-mula diwujudkan melalui buku Mapur Mendulang Kisah Meraup Berkah. PT TIMAH tidak hanya mendukung proses penulisannya, tetapi juga mengantarkan kisah-kisah masyarakat Adat Mapur ke berbagai sekolah. Dari ruang-ruang kelas, cerita yang dahulu beredar dari mulut ke mulut kini menjelma bahan literasi kebudayaan, agar generasi muda mengenal akar yang menumbuhkan mereka.

Langkah itu kemudian berlanjut pada upaya merawat tradisi dalam bentuk yang lebih nyata, melalui hadirnya Kampung Adat Gebong Memarong sebuah ruang belajar budaya yang menampilkan rumah tradisional masyarakat Adat Mapur. Bagi masyarakat Mapur, memarong bukan sekadar bangunan; ia adalah rumah, tempat kenangan berdiam, tempat adat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Memarong dibangun dari kayu-kayu pilihan yang diikat rapat dengan bilah rotan, tanpa sebatang paku pun. Lantainya tersusun dari belahan kayu ibul atau nibung yang dijalin dengan rotan tunggal. Dindingnya berasal dari kulit kayu, sementara atapnya bertudung daun nipah atau rumbia. Pada tiap bagiannya, memarong menyimpan pengetahuan lama tentang bagaimana manusia hidup bersahabat dengan alam, mengambil secukupnya, lalu mengembalikannya dengan hormat.

Melihat potensi yang terus tumbuh, PT TIMAH tidak berhenti pada pelestarian simbolik. Perusahaan ini turut menyiapkan masyarakat adat agar denyut kehidupan di Kampung Adat Gebong Memarong tetap menyala dan memberi manfaat nyata. Pelatihan membatik digelar, alat tenun disediakan, warga dibekali kemampuan menjadi pemandu wisata, hingga kawasan ini diperkenalkan kepada para tamu perusahaan.

Kini, Kampung Adat Gebong Memarong tidak hanya menjadi penjaga tradisi. Ia telah tumbuh menjadi ruang hidup yang menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus tempat belajar bagi ribuan pelajar yang datang menelusuri jejak sejarah. Di sana, masa lalu tidak dibiarkan menjadi sunyi. Ia terus dihidupkan dan PT TIMAH telah lama berjalan bersama upaya itu, setia membersamai langkah-langkah kecil yang menjaga warisan agar tetap bernapas hingga hari ini. (*)

sumber:www.timah.com

error: Content is protected !!