Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Pangkalpinang

Sumur Warga Mengering, Tanaman Mati: Pemprov Babel Sampai Gelar Salat Istisqa

×

Sumur Warga Mengering, Tanaman Mati: Pemprov Babel Sampai Gelar Salat Istisqa

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Kekeringan mulai menekan kehidupan warga Bangka Belitung. Sejumlah sumur masyarakat dilaporkan mengering, tanaman mati, sementara lahan pertanian semakin sulit digarap. Di tengah kondisi itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) mengajak ASN dan masyarakat bermunajat meminta hujan segera turun.

Salat istisqa digelar di halaman Kantor Gubernur Babel, Jumat (25/9/2026) pagi. ASN Pemprov Babel, organisasi masyarakat Islam dan warga mengikuti ibadah tersebut dengan harapan kemarau panjang segera berakhir.

admin-ajax.png

Salat dipimpin Imam Alhafiz Syech Ismail dari Palestina. Sementara khotbah disampaikan Ketua LPTQ Babel, KH Syamsuni Saleh, SQ.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Babel, M. Tarmin, mengatakan salat istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama karena hujan sudah cukup lama tidak turun di wilayah Bangka Belitung.

“Salat istisqa ini dalam rangka kita bermunajat kepada Allah untuk meminta hujan. Sudah beberapa bulan ini hujan tidak turun di wilayah Bangka Belitung,” kata Tarmin.

Menurut Tarmin, dampak kemarau mulai dirasakan langsung masyarakat. Salah satu persoalan yang muncul adalah semakin banyaknya sumur warga yang mengalami kekeringan.

“Kalau hujan ini semakin lama tidak turun, kita khawatir masyarakat akan banyak mengalami kesulitan. Walaupun saat ini kesulitan itu sudah ada, sudah banyak sumur-sumur masyarakat yang kering,” ujarnya.

Tak hanya kebutuhan air rumah tangga, sektor pertanian juga ikut terdampak. Tanaman mulai mati dan masyarakat kesulitan bercocok tanam karena kondisi tanah yang terlalu kering.

“Masyarakat yang ingin bercocok tanam juga sudah tidak bisa karena tanah yang sangat kering tidak mengandung air. Tidak mungkin tanaman akan tumbuh kalau tidak ada air,” kata Tarmin.

Pemprov Babel berharap doa yang dipanjatkan bersama dalam salat istisqa menjadi ikhtiar agar hujan segera turun dengan curah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala Biro Kesra Babel, M. Yasir Mustafa, mengatakan salat istisqa merupakan ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW ketika umat menghadapi kemarau panjang. Sejumlah kabupaten/kota di Babel sebelumnya juga telah menggelar salat serupa, di antaranya Bangka Selatan dan Pangkalpinang.

“Kita dianjurkan untuk melaksanakan salat meminta hujan ketika terjadi musim kemarau panjang,” ujar Yasir.

Namun, khotbah KH Syamsuni Saleh membawa pesan yang lebih luas. Menurutnya, kemarau panjang harus menjadi bahan evaluasi manusia dalam menjaga lingkungan.

Ia menyoroti perubahan cuaca dan siklus musim yang semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut, kata dia, diperparah oleh kerusakan hutan dan lahan akibat penebangan pohon secara masif dan sembarangan.

Syamsuni mengingatkan persoalan lingkungan tidak berhenti ketika kemarau berakhir. Saat hujan turun, persoalan lain seperti banjir dan tanah longsor dapat muncul karena berkurangnya kawasan resapan air.

“Ketika musim penghujan datang, bencana pun sudah mengintai seperti tanah longsor karena tidak ada resapan air dan pohon yang menguatkan tanah sehingga air mengalir dengan cepat mengakibatkan banjir,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan sampah yang semakin menumpuk dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelolanya. Menurut Syamsuni, berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan dampaknya pada akhirnya kembali dirasakan manusia.

Karena itu, doa meminta hujan harus berjalan beriringan dengan tindakan menjaga alam. Reboisasi dan penghentian penebangan pohon secara sembarangan dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi risiko bencana.

“Maka dari itu, perlu komitmen untuk kita merawat jagat ini sehingga air akan bisa tetap mengalir membawa rahmat bagi alam semesta, di antaranya dengan tidak menebang pohon sembarangan dan memperkuat reboisasi agar bumi tetap hijau dan sejuk,” ujar Syamsuni. (AS)

banner nidia kcl.png