Scroll untuk baca artikel
banner promo atas.png
Example floating
Example floating
1770715584014
Daerah

Sawit Tetap Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Andalas Forum VI Dorong Tata Kelola Berkelanjutan

×

Sawit Tetap Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Andalas Forum VI Dorong Tata Kelola Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Palembang, nidianews.com – Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional dalam gelaran Andalas Forum VI yang berlangsung pada 16–17 April 2026 di Palembang.

Forum yang mempertemukan pakar, pemerintah, dan pelaku usaha ini menyoroti pentingnya penguatan tata kelola sektor sawit agar mampu menghadapi tekanan global sekaligus menjaga kontribusi besarnya bagi Indonesia.

admin-ajax.png

Ketua GAPKI Bangka Belitung, Datuk Ramli Sutanegara, bersama Sekretaris Purnomo SH turut ambil bagian dalam forum tersebut, yang membahas berbagai isu strategis mulai dari keberlanjutan hingga pembiayaan sektor perkebunan.

Guru Besar Kebijakan Agribisnis IPB, Y. Bayu Krisnamurthi, menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan komoditas sawit bersifat saling ketergantungan. Ia menyebut industri ini telah menyerap sekitar 16 juta tenaga kerja dan menjadi penyumbang devisa ekspor utama dengan porsi mencapai 64 persen.

Menurutnya, pengembangan sawit ke depan harus didukung kebijakan terintegrasi yang mampu menyeimbangkan kebutuhan energi, pangan, serta prinsip keberlanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi tantangan global seperti isu lingkungan, persaingan minyak nabati, hingga dinamika geopolitik.

Sementara itu, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, menilai sektor sawit masih menjadi penopang utama pertanian dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi pembiayaan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa sektor sawit masih memiliki peluang besar dalam penyaluran kredit, dengan tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibanding komoditas pertanian lainnya.

Tak hanya dari sisi ekonomi, kontribusi sawit juga terlihat dalam aspek lingkungan. Sektor ini dinilai mampu menekan potensi emisi gas rumah kaca hingga sekitar 200 juta ton CO2e atau setara 40 persen, menjadikannya sebagai aset penting dalam mendukung ketahanan iklim global.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat M.E. Manurung, menyoroti adanya kesenjangan produktivitas antara petani dan perusahaan besar. Ia menekankan perlunya peningkatan produktivitas petani sebagai prioritas ke depan.

Di sisi lain, Pengurus Bidang Perkebunan GAPKI, Ismu Zulfikar, menegaskan bahwa sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) tidak hanya sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi nilai tambah untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Sebagai penutup, Andalas Forum VI menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kebijakan sawit berkelanjutan, percepatan program peremajaan sawit rakyat, pengembangan pembiayaan hijau, serta peningkatan diplomasi ekonomi global. Forum ini juga mendorong pembentukan Badan Otoritas Sawit dan percepatan pengesahan Undang-Undang Perkelapasawitan. (*)

error: Content is protected !!