Pangkalpinang, nidianews.com – Festival kebudayaan tidak cukup hanya menampilkan kesenian tradisional. Lebih dari itu, kegiatan budaya diharaJpkan mampu menjaga identitas daerah, menarik wisatawan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Kebudayaan Nasional Kedua tingkat Kota Pangkalpinang tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Festival Kesenian Tradisional, Lomba Menulis Biografi Wali Kota Periode 1956–1978, dan Bazar UMKM di Taman Wilhelmina, Sabtu (17/10/2026).
Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Syarli Novriansyah, yang hadir mewakili wali kota, menegaskan pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai bagian strategis pembangunan daerah, bukan sekadar agenda perayaan tahunan.
Dalam sambutan yang disampaikannya, Syarli menyebut kebudayaan memiliki peran penting dalam membentuk identitas bangsa, menjaga persatuan, serta memperkuat karakter masyarakat di tengah keberagaman.
“Kebudayaan adalah akar dari identitas bangsa. Ia bukan sekadar tontonan atau warisan masa lalu, melainkan energi yang hidup yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan merawat persatuan di tengah keberagaman,” demikian bunyi sambutan tersebut.
Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki Pangkalpinang harus terus dirawat dan dikembangkan agar tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku seni, komunitas budaya, dunia pendidikan, dan masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian pemerintah kota adalah potensi kegiatan kebudayaan dalam menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
Syarli menyampaikan, aktivitas budaya dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya sekaligus memperluas pasar bagi industri kreatif dan UMKM lokal.
Kerajinan tangan, kain tradisional, kuliner khas, serta suvenir daerah dinilai memiliki peluang untuk berkembang apabila mendapat ruang promosi dan dukungan yang berkelanjutan.
Karena itu, keberadaan bazar UMKM dalam rangkaian festival menjadi salah satu bentuk keterkaitan antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat.
Namun, pengembangan potensi tersebut membutuhkan kesinambungan program agar manfaatnya tidak hanya dirasakan selama kegiatan berlangsung. Pembinaan pelaku seni, pengembangan produk lokal, serta promosi destinasi budaya perlu menjadi bagian dari upaya jangka panjang.
Pemerintah Kota Pangkalpinang berharap peringatan Hari Kebudayaan Nasional dapat mendorong integrasi kebudayaan dengan sektor pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Selain festival kesenian dan bazar UMKM, kegiatan tersebut juga menghadirkan lomba menulis biografi wali kota Pangkalpinang periode 1956–1978.
“Lomba ini menjadi ruang untuk mengenalkan perjalanan sejarah kepemimpinan dan perkembangan Kota Pangkalpinang kepada masyarakat, khususnya generasi muda.”katanya.
Pengetahuan mengenai sejarah daerah dinilai penting untuk membangun kesadaran terhadap identitas lokal serta memahami proses panjang yang membentuk kota hingga saat ini.
Syarli menegaskan, pelestarian budaya harus menjadi proses berkelanjutan. Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan atau dikenang, tetapi perlu dihidupkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui peringatan Hari Kebudayaan Nasional Kedua, Pemkot Pangkalpinang mengajak masyarakat memperkuat rasa bangga terhadap budaya daerah sekaligus menjaga persatuan dalam keberagaman.
“Tantangannya kini adalah memastikan kegiatan kebudayaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi ruang pembinaan generasi, penguatan identitas daerah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.” Tutupnya. (RE)














