Scroll untuk baca artikel
banner promo atas.png
Example floating
Example floating
1770715584014
Pangkalpinang

Kepedulian INTI Disorot, Kadisdikbud Pangkalpinang: Pendidikan Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah

×

Kepedulian INTI Disorot, Kadisdikbud Pangkalpinang: Pendidikan Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pangkalpinang, Erwandi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan sosial yang dilakukan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bangka Belitung, khususnya dalam membantu pelajar kurang mampu.

Dalam wawancara, Erwandi menilai kontribusi INTI sangat nyata dan berdampak langsung bagi dunia pendidikan di Kota Pangkalpinang.

admin-ajax.png

“Oke, kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh perhimpunan Indonesia Tionghoa, INTI. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak didik kita. Kita ketahui bersama, tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu. Dengan bantuan ini tentu sangat luar biasa,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, Disdikbud sangat berterima kasih atas kepedulian sosial yang selama ini ditunjukkan oleh INTI. Menurutnya, rekam jejak organisasi tersebut di Pangkalpinang sudah terbukti aktif membantu masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial.

“Kami melihat track record INTI di Kota Pangkalpinang ini luar biasa. Banyak membantu masyarakat melalui kegiatan sosial yang konsisten dilakukan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Erwandi menekankan pentingnya kolaborasi dalam memajukan pendidikan. Ia menilai, urusan pendidikan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah semata, melainkan membutuhkan peran aktif berbagai pihak.

“Yang terpenting adalah kepedulian sosial harus terus kita jaga. Dunia pendidikan ini tidak bisa hanya bergantung kepada pemerintah. Perlu kebersamaan, uluran tangan dari masyarakat yang peduli, seperti yang dilakukan INTI ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Erwandi juga memaparkan upaya Disdikbud dalam menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS). Ia menyebut pihaknya melakukan intervensi dengan mendata dan mengidentifikasi anak-anak yang putus sekolah.

“ATS itu memang ada. Variabelnya banyak, mulai dari faktor ekonomi hingga broken home. Kami melakukan inventarisasi dengan melibatkan 42 Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) di setiap kelurahan untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak sekolah,” ujarnya.

Tak hanya itu, Disdikbud juga menggandeng aparat kepolisian dalam proses pendataan dan penanganan.

“Tahun ini kami bekerja sama dengan Polsek Grunggang untuk mendata anak-anak yang tidak sekolah di wilayah tersebut. Nantinya akan kami masukkan ke pendidikan formal maupun non-formal melalui PKBM paket A, B, dan C,” jelasnya.

Dari hasil pendataan, terdapat sekitar 167 anak yang masuk kategori tidak sekolah. Namun, tidak semuanya bersedia kembali melanjutkan pendidikan.

“Dari 167 anak, tidak semuanya mau sekolah lagi. Tapi kami sudah melakukan pendekatan, dan 68 anak sudah kami bantu melalui beasiswa sebesar satu juta rupiah per orang. Mereka kami masukkan ke program paket sesuai jenjang pendidikannya,” terangnya.

Erwandi mengungkapkan, faktor ekonomi dan kondisi keluarga menjadi penyebab utama anak putus sekolah di Pangkalpinang.

“Faktor utamanya ekonomi dan broken home. Banyak juga anak pendatang yang mengalami kesulitan ekonomi, itu yang menjadi tantangan kita,” pungkasnya.(RE)

error: Content is protected !!