Pangkalpinang, nidianews.com – Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas program dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular, terutama HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), malaria, dan hepatitis.
Hal tersebut disampaikan Saparudin saat membuka sekaligus menjadi narasumber dalam Pertemuan Lintas Sektor dan Lintas Program terkait Sosialisasi Penguatan Integrasi ATMH dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP), melalui Zoom Meeting, di Grand Safran Hotel, Selasa (3/11/2026).
Saparudin mengatakan, integrasi pelayanan kesehatan primer merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung transformasi kesehatan nasional. Melalui pendekatan tersebut, pelayanan kesehatan diharapkan semakin mudah dijangkau dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Ia menjelaskan, terdapat tiga fokus utama dalam penguatan integrasi layanan primer. Pertama, pendekatan pelayanan berdasarkan siklus hidup. Kedua, perluasan akses layanan kesehatan melalui puskesmas pembantu (Pustu) dan kelurahan. Ketiga, penguatan pemantauan wilayah melalui dashboard situasi kesehatan di seluruh kelurahan.
Menurut Saparudin, penanganan penyakit menular membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, koordinasi antara organisasi perangkat daerah (OPD), fasilitas pelayanan kesehatan, dan unsur masyarakat harus diperkuat.
“Kita berharap melalui sosialisasi ini, koordinasi, sinergi, dan kolaborasi antara dinas terkait, lembaga, serta puskesmas semakin meningkat, terutama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, TBC, malaria, dan hepatitis,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Saparudin juga memaparkan data kasus kesehatan di Pangkalpinang. Berdasarkan data hingga September 2024 yang disampaikan dalam paparannya, terdapat 88 kasus baru HIV, terdiri atas 16 perempuan dan 72 laki-laki.
Dari kelompok laki-laki tersebut, sebanyak 48 kasus masuk dalam kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). Selain itu, tercatat 20 pasien AIDS dan tiga orang meninggal dunia akibat HIV.
Untuk penyakit lainnya, terdapat 15 kasus TB-HIV, 11 kasus malaria, serta 14 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan hepatitis B reaktif.
Saparudin menilai data tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan dan penanganan penyakit menular harus dilakukan secara konsisten melalui deteksi dini, pemantauan, serta peningkatan akses pelayanan kesehatan.
Ia juga meminta dukungan seluruh OPD, sektor swasta, BUMN melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Baznas, lembaga keagamaan, hingga komunitas masyarakat.
“Persoalan kesehatan ini harus didukung semua pihak. Tidak hanya OPD, tetapi juga swasta, BUMN melalui CSR, Baznas, lembaga agama, dan komunitas yang ada di Kota Pangkalpinang,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia berharap penguatan kerja sama tersebut dapat menjangkau hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Dengan demikian, pemantauan kasus dapat dilakukan lebih efektif dan langkah penanganan bisa segera dilaksanakan.
Saparudin menegaskan, keberhasilan menekan penyebaran penyakit menular tidak hanya bergantung pada pelayanan fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa bersama-sama berkolaborasi dan bersinergi untuk menekan peningkatan kasus-kasus tersebut,” tutupnya.(RE)














