Example floating
Example floating
Baru.png
banner 3
Pangkalpinang

YKAN Fokus Lindungi Mangrove Bangka Belitung, Dorong Ekowisata dan Budidaya Kepiting untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

×

YKAN Fokus Lindungi Mangrove Bangka Belitung, Dorong Ekowisata dan Budidaya Kepiting untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Fpto Ilustrasi

Pangkalpinang, nidianews.com – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) terus memperkuat upaya pelestarian ekosistem mangrove di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui program yang tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Koordinator Program Bangka Belitung Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Niko Kamal, mengatakan Bangka Belitung memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan daerah lain dalam menjaga kelestarian hutan mangrove.

admin-ajax.png

Menurutnya, setiap wilayah memiliki ancaman spesifik terhadap ekosistem mangrove. Di Riau misalnya, kerusakan mangrove didominasi penebangan ilegal untuk kebutuhan kayu arang. Sementara di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kawasan mangrove banyak dikonversi menjadi tambak berskala besar.

“Kalau di Bangka Belitung, ancamannya memiliki karakteristik sendiri. Selain aktivitas penambangan timah ilegal, konversi kawasan mangrove menjadi perkebunan sawit juga mulai semakin masif. Di beberapa lokasi, mangrove yang berbatasan dengan daratan berubah menjadi kebun sawit, ditambah tekanan dari perluasan kawasan permukiman,” ujar Niko.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu alasan YKAN menghadirkan program konservasi mangrove di Bangka Belitung.

Secara umum, program YKAN di Bangka Belitung memiliki dua fokus utama, yakni menjaga kualitas ekosistem mangrove sekaligus memperkuat sumber penghidupan masyarakat agar selaras dengan upaya konservasi.

Pada aspek ekologi, YKAN memprioritaskan perlindungan kawasan mangrove yang masih baik serta rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan.

Saat ini, program tersebut dijalankan di enam desa, yakni Desa Kota Kapur, Kota Waringin, dan Penyamun di Kabupaten Bangka, Desa Cendil di Kabupaten Belitung Timur, serta Desa Dendang dan Gantung di Kabupaten Belitung Timur.

“Kalau mangrove yang masih bagus tidak kita lindungi, sementara ancamannya terus ada, lama-kelamaan kawasan yang baik itu juga akan rusak. Karena itu yang masih baik kita fokuskan pada perlindungan, sedangkan yang rusak kita rehabilitasi,” jelasnya.

Selain konservasi, YKAN juga menilai keberhasilan pelestarian lingkungan harus dibarengi dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurut Niko, upaya konservasi tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat belum memiliki alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan.

“Kita tidak bisa hanya bicara konservasi. Pada akhirnya masyarakat juga harus memenuhi kebutuhan ekonomi. Karena itu kami mendorong sumber penghidupan yang sejalan dengan pelestarian mangrove,” katanya.

YKAN kemudian mengembangkan dua sektor unggulan di wilayah dampingan, yakni ekowisata dan pengembangan komoditas kepiting.

Untuk sektor ekowisata, YKAN mendorong konsep wisata berbasis edukasi lingkungan sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian mangrove.

Sementara pada sektor perikanan, YKAN melihat potensi kepiting bakau di kawasan mangrove Bangka Belitung masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, pengembangan kepiting dilakukan melalui kajian daya dukung ekosistem agar pemanfaatannya tetap berkelanjutan dan tidak merusak habitat mangrove.

“Kami ingin pengelolaan kepiting dilakukan secara berkelanjutan. Jadi masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi, tetapi ekosistem mangrove tetap terjaga,” ujarnya.

Dalam menjalankan program tersebut, YKAN juga aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah, di antaranya bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya.

Selain itu, pelaksanaan program turut mendapat dukungan dari Tim Koordinasi Mangrove Daerah (TKMD) yang kini berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Melalui sinergi tersebut, YKAN berharap upaya pelestarian mangrove di Bangka Belitung dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga ekosistem pesisir tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.(RE)