Pangkalpinang, nidianews.com – Kebakaran lahan di Kota Pangkalpinang terus meningkat di tengah musim kemarau. Hingga awal September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang mencatat sedikitnya 134 kejadian kebakaran lahan sejak Agustus.
Lonjakan tersebut membuat Pemerintah Kota Pangkalpinang membentuk satuan tugas (satgas) gabungan untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober.
Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedy Revandi, mengatakan sepanjang Agustus 2026 tercatat 121 titik atau kejadian kebakaran lahan. Memasuki September, sudah terdapat 13 kejadian.
“Sepanjang bulan Agustus 2026 ada tercatat 121 titik kebakaran lahan. Pada saat memasuki bulan September ini ada terdapat 13 kejadian,” ungkap Dedy.
Dengan demikian, total kejadian yang tercatat sejak Agustus hingga awal September mencapai 134 kebakaran lahan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena cuaca kering dapat membuat api lebih cepat muncul dan meluas.
BPBD telah memetakan sejumlah wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi. Tiga kecamatan menjadi perhatian utama, yakni Bukit Intan, Gabek dan Gerunggang.
Di Kecamatan Bukit Intan, kawasan yang mendapat perhatian meliputi Kelurahan Air Itam, Temberan dan Sinar Bulan. Sementara di Kecamatan Gabek, wilayah rawan berada di Selindung dan Jerambah Gantung.
Adapun di Kecamatan Gerunggang, titik yang menjadi perhatian antara lain Kelurahan Air Kepala Tujuh serta sejumlah kawasan lahan terbuka.
“Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran semakin besar,” ujar Dedy.
Ia menjelaskan, suhu tinggi, vegetasi yang mengering, rendahnya kelembaban tanah serta hembusan angin membuat api lebih mudah muncul dan cepat merambat.
Namun, menurut Dedy, faktor alam bukan satu-satunya persoalan. Perilaku manusia juga menjadi perhatian karena pembakaran lahan, pembakaran sampah, puntung rokok maupun kelalaian saat menggunakan sumber api dapat memicu kebakaran ketika kondisi lingkungan sangat kering.
“Jadi di samping faktor alam, perilaku manusia juga menjadi perhatian seperti pembakaran lahan, pembakaran sampah, puntung rokok maupun kelalaian ketika menggunakan sumber api dapat memicu kebakaran khususnya saat kondisi lingkungan sangat kering,” jelasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, penanganan akan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat. Dari unsur pemerintah, satgas akan melibatkan BPBD, Pemadam Kebakaran, kelurahan dan sejumlah organisasi perangkat daerah.
Sementara dari unsur pengamanan melibatkan TNI, Polri dan Satpol PP. Masyarakat juga akan dilibatkan melalui perangkat RT/RW, relawan, komunitas hingga dunia usaha.
Tak hanya ancaman kebakaran lahan, Pemkot Pangkalpinang juga mulai menyiapkan langkah menghadapi potensi kekeringan. BPBD menyebut informasi cuaca dari BMKG menunjukkan musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
“Informasi dari BMKG bahwa kemarau ini hingga Oktober. Sehingga dua bulan ke depan kita harus mengantisipasi kekeringan di musim kemarau,” kata Dedy.
BPBD bahkan mulai mencari sumber air alternatif yang dapat digunakan ketika kebutuhan air masyarakat meningkat. Dedy mengatakan pihaknya akan mengarahkan personel untuk mengidentifikasi kolam-kolam yang berpotensi menjadi sumber air baru.
“Saya sudah berbicara dengan Direktur PDAM, Pak Agus, bahwa di kolam itu ada, dan kolam itu nanti akan kita siapkan dan siapa tahu airnya bisa untuk disuplai. Baik untuk air bersih maupun untuk kejadian,” ujarnya.
Kesiapsiagaan personel juga diperkuat. BPBD menyiagakan sekitar 20 hingga 25 anggota setiap hari untuk menghadapi kemungkinan kebakaran maupun permintaan bantuan air selama musim kemarau.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan nantinya dapat menghubungi call centre BPBD. Setiap laporan akan diproses untuk kemudian mengerahkan personel ke lokasi.
Untuk distribusi air, BPBD memiliki kendaraan tangki dengan kapasitas sekitar 8.000 liter dan dalam kondisi tertentu dapat melakukan penyaluran hingga dua kali dalam sehari.
Dedy menegaskan, apabila kebutuhan air datang secara bersamaan dari sekolah, instansi dan masyarakat, kepentingan masyarakat akan menjadi prioritas.
“Tapi kalau misalkan antara sekolah, instansi, dengan masyarakat, ya kita utamakan masyarakat dulu,” tegasnya.
Dengan ancaman 134 kebakaran lahan yang sudah tercatat sejak Agustus hingga awal September, Pemkot Pangkalpinang kini menghadapi dua persoalan sekaligus: mencegah api meluas dan memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi hingga musim kemarau berakhir. (AS)














