Pangkalpinang, nidianews.com – Jurnalis didorong tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam mengawal isu lingkungan dan mendorong pelestarian ekosistem secara berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Eko Santosa, saat membuka Pelatihan Jurnalisme Lingkungan untuk Jurnalis Lokal di Pulau Bangka, di Ballroom Tanjung Kelayang, Hotel Santika Bangka Tengah, Rabu (4/11/2026).
Menurut Eko, persoalan lingkungan membutuhkan perhatian dan sinergi berbagai pihak, terutama dalam menjaga keseimbangan antara upaya pelestarian ekosistem dan pemanfaatan sumber daya alam.
“Hal ini harus menjadi perhatian dan sinergi kita bersama untuk menjaga ekosistem lingkungan, khususnya di Babel, agar berjalan baik antara upaya pelestarian lingkungan berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tetap harus terarah,” ungkap Eko.
Ia menilai, pelatihan tersebut menjadi langkah positif untuk meningkatkan pemahaman jurnalis terhadap berbagai persoalan lingkungan sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya konservasi.
Eko menegaskan, tanggung jawab menjaga keseimbangan lingkungan tidak hanya berada di tangan pemerintah maupun lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk insan pers.
“Dukungan terhadap upaya menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem lingkungan ini juga harus didukung semua elemen masyarakat, termasuk para jurnalis,” katanya.
Ia berharap para peserta mampu membangun pola pikir yang kritis, cerdas, dan berwawasan luas dalam melihat peluang serta tantangan berbagai persoalan lingkungan.
Dengan demikian, produk jurnalistik yang dihasilkan tidak sekadar menjadi penyampai informasi, tetapi juga dapat memberikan edukasi, perspektif, serta masukan konstruktif bagi pemerintah dan masyarakat.
Pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 November 2026, dengan melibatkan 20 peserta. Mereka terdiri atas 15 jurnalis dan lima perwakilan Diskominfo Provinsi Babel, Kabupaten Bangka, Kota Pangkalpinang, dan Kabupaten Bangka Tengah.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini, di antaranya Ahmad Arif dari tim media Kompas serta pakar lingkungan dari Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas Bangka Belitung (UBB), M. Oka Arizona.
Sementara itu, YKAN merupakan organisasi konservasi yang telah bekerja sejak 2014 dan saat ini memiliki wilayah kerja di 14 daerah di Indonesia, termasuk Bangka Belitung.
Di Babel, YKAN mulai menjalankan program pada 2024 melalui berbagai tahapan asesmen dan implementasi. Program tersebut mencakup penguatan ketahanan pesisir, konservasi mangrove, edukasi lingkungan, serta peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui program Serumpun Babel, YKAN tidak hanya mendorong pelestarian hutan mangrove, tetapi juga mengembangkan alternatif mata pencaharian masyarakat lokal, seperti budi daya kepiting bakau, pariwisata berbasis potensi alam, serta pengembangan kembali komoditas lada.
Melalui pelatihan ini, diharapkan jurnalis lokal semakin memiliki kapasitas dalam mengangkat persoalan lingkungan secara mendalam, berimbang, dan berbasis data sehingga isu konservasi mendapat perhatian lebih luas serta mendorong kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam Bangka Belitung.(AS)














