Pangkalpinang, nidianews.com – Wali Kota Pangkalpinang Saparudin mengingatkan dunia pendidikan agar tidak terlena dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin mudah digunakan peserta didik.
Menurut dia, AI seperti ChatGPT memang mampu memberikan jawaban atas hampir semua pertanyaan akademik. Namun, teknologi tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan peran guru dan orang tua dalam membentuk moral, spiritualitas, disiplin dan perilaku anak.
“AI enggak bisa ngajarin perilaku. AI enggak bisa ngajarin moral. AI enggak bisa ngajarin spiritual. AI hanya bisa mengajarkan bagaimana kita berpikir,” kata Saparudin saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekolah Budi Mulia Pangkalpinang, Jumat (4/9/2026).
Saparudin mengatakan perkembangan AI telah membuat proses memperoleh pengetahuan menjadi jauh lebih mudah. Peserta didik bahkan dapat memperoleh jawaban sebelum guru selesai menjelaskan sebuah materi.
“Kadang-kadang sebelum gurunya nanya, dia sudah tahu dulu jawabannya. Gurunya mau menjelaskan, dia duluan bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan ini?’ Keluar semua di ChatGPT-nya,” ujarnya.
Karena itu, menurut dia, pendidikan di era AI justru harus semakin serius menempatkan pembangunan karakter sebagai prioritas.
“Yang penting hari ini adalah bagaimana kita memupuk dan meningkatkan mental, spiritual, disiplin, moral dan perilaku anak-anak kita, sehingga mereka siap,” katanya.
Saparudin menilai pendidikan karakter tidak bisa hanya diberikan melalui teori atau materi pelajaran di dalam kelas.
Guru, kata dia, harus menjadi contoh nyata bagi peserta didik.
“Mengajar itu, kalau perilaku, enggak ada cara lain. Contoh,” tegasnya.
Ia menjelaskan anak-anak belajar karakter terutama melalui apa yang mereka lihat dari orang-orang terdekatnya.
Menurut Saparudin, pola tersebut bahkan dimulai sejak anak berada di lingkungan keluarga.
“Kalau ibu kita mengajarkan kita dulu, sekarang kita punya anak, kita juga melakukan hal yang sama. Kalau ayah kita dulu selalu mengelus kepala kita ketika kita pergi sekolah, ketika kita punya anak pasti kita elus dia dan kita doakan,” katanya.
Karena itu, ia meminta orang tua dan guru tidak hanya berbicara mengenai moral, tetapi menunjukkan moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita ajarkan di papan tulis, ‘Moral maksudnya begini, perilaku maksudnya begini’, enggak jadi. Itu soal pengetahuan dan pemahaman saja. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memberikan contoh yang baik kepada anak-anak,” ujarnya.
Di tengah tantangan pendidikan era digital tersebut, Saparudin menyebut Pangkalpinang memiliki modal besar berupa potensi akademik peserta didik.
Ia mengatakan prestasi pendidikan Pangkalpinang mampu bersaing di tingkat nasional meskipun kota tersebut relatif kecil.
Saparudin menyebut capaian TKA peserta didik Pangkalpinang berada pada posisi terbaik di tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan masuk enam besar secara nasional.
“Kalau di provinsi kita terbaik, di tingkat nasional kita peringkat enam untuk TKA. SMP juga di 10 besar semua,” katanya.
Ia mengaku tidak terkejut dengan capaian tersebut karena dirinya pernah menempuh pendidikan SD, SMP hingga SMA di Pangkalpinang.
“Saya tahu betul bahwa kita yang ada di Pangkalpinang ini sebetulnya bisa berbicara pada level nasional,” ujarnya.
Namun, Saparudin mengingatkan prestasi akademik tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.
Menurut dia, sekolah harus mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus memiliki karakter kuat.
Saparudin juga mengapresiasi perjalanan Sekolah Budi Mulia yang telah berkontribusi terhadap pendidikan di Pangkalpinang selama sekitar 100 tahun.
Peletakan batu pertama pembangunan gedung SD, SMP dan SMA Budi Mulia, kata dia, menjadi bagian penting dari upaya memperkuat fasilitas pendidikan di daerah tersebut.
“Ini sebuah perjalanan bagaimana saudara-saudara kita, sahabat kita di Budi Mulia telah mengembangkan pendidikan di Kota Pangkalpinang yang sudah 100 tahun usianya. Ini adalah karya yang luar biasa,” katanya.
Ia berharap pembangunan gedung baru dapat selesai tepat waktu dan segera dimanfaatkan peserta didik.
Saparudin bahkan menyelipkan pesan agar pembangunan tidak berakhir hanya sebagai seremoni peletakan batu pertama.
“Mudah-mudahan jangan meletakkan batu pertama saja. Ada juga peletakan batu pertama gedung, kapan diresmikannya? Enggak diresmi-resmi. Sudah ganti wali kota, enggak diresmikan. Enggak jadi-jadi rupanya, enggak selesai-selesai,” katanya disambut suasana hangat.
Ia berharap seluruh pihak, termasuk pengelola dan alumni Budi Mulia, terus bergotong royong memastikan pembangunan tersebut benar-benar rampung.
Menurut Saparudin, investasi di sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan daerah.
“Pendidikan ini hal yang mendasar. Ini adalah mandatory spending dari pemerintah bahwa kita wajib memberikan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan kepada anak-anak kita,” katanya.
Ia juga mengapresiasi para alumni yang turut menjadi donatur bagi peserta didik kurang mampu.
Saparudin menilai kepedulian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan semata-mata urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, ia berharap Budi Mulia tidak hanya menjadi tempat mencetak anak-anak berprestasi secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki moral, etika, disiplin dan perilaku yang baik.
Sebab, di tengah derasnya perkembangan AI, kata Saparudin, kemampuan menjawab pertanyaan mungkin dapat diserahkan kepada teknologi, tetapi membentuk manusia tetap menjadi tugas manusia.(RE)














