Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
BUMN

Pelaku UMKM: Ekonomi Belitung Timur Masih Bergantung pada Perputaran Timah

×

Pelaku UMKM: Ekonomi Belitung Timur Masih Bergantung pada Perputaran Timah

Sebarkan artikel ini
foto ilustrasi

Belitung Timur, nidianews.com – Aktivitas pertambangan dan perdagangan timah masih menjadi salah satu penggerak penting perekonomian masyarakat di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung.

Ketika aktivitas dan perdagangan timah bergerak, dampaknya turut dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang pasar, warung kopi hingga sektor jasa. Sebaliknya, ketika aktivitas timah melemah, perputaran ekonomi di tingkat masyarakat ikut melambat.

admin-ajax.png

Hal itu disampaikan Endang Purwono, pelaku UMKM asal Kampung Baru yang juga aktif dalam pengembangan komunitas ekonomi kreatif di lingkungannya.

Menurut Endang, dalam beberapa hari terakhir aktivitas ekonomi masyarakat yang diamatinya masih relatif sepi. Kondisi tersebut terlihat dari aktivitas pasar hingga warung-warung kopi yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Kalau saya lihat dalam beberapa hari ini situasi masih sama saja. Kegiatan aktivitas di kawasan kami juga masih biasa-biasa saja. Kondisi ekonomi memang jauh, tidak bergerak,” kata Endang.

Ia mengatakan, warung kopi yang selama ini menjadi salah satu pusat interaksi masyarakat juga ikut terdampak. Sejumlah pelaku usaha, kata dia, mengaku mengalami penurunan omzet.

“Dari pasar, kegiatan aktivitas di pasar sepi. Di warung-warung kopi juga sepi. Saya sempat ngobrol dengan teman yang punya warung kopi, omzetnya jauh turun. Malam hari yang seharusnya orang santai dan ngopi, sekarang sepi,” ujarnya.

Endang menilai kondisi tersebut menunjukkan masih kuatnya keterkaitan antara aktivitas pertambangan timah dan perekonomian masyarakat Belitung Timur.

Menurutnya, pendapatan masyarakat dari sektor timah akan kembali berputar di sektor ekonomi lokal melalui aktivitas konsumsi, mulai dari berbelanja kebutuhan sehari-hari, makan di warung, menikmati kopi, membeli produk UMKM hingga melakukan perjalanan.

“Memang terasa. Kalau timahnya harganya lebih bagus, masyarakat punya uang lebih, pasar pasti ramai. Mereka juga punya uang lebih untuk jalan-jalan atau belanja produk UMKM,” katanya.

Ia bahkan menyebut pergerakan masyarakat Belitung Timur ke daerah lain untuk berbelanja menjadi salah satu gambaran bagaimana uang dari sektor timah turut menggerakkan aktivitas ekonomi.

“Kalau timah goyang, kelihatan benar. Belitung Timur memang masih belum bisa move on dari timah,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Endang menilai masyarakat juga membutuhkan kepastian terkait aktivitas pertambangan timah, khususnya bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.

Ia memahami aktivitas pertambangan harus berjalan sesuai ketentuan hukum. Namun, menurut dia, kondisi ekonomi masyarakat juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam mencari solusi terhadap persoalan pertimahan.

Endang berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menghadirkan mekanisme yang memberikan kepastian bagi masyarakat sekaligus tetap berada dalam koridor hukum.

Menurut dia, persoalan pemasaran hasil tambang juga perlu mendapat perhatian, termasuk dengan memperluas jumlah mitra pembelian.

“Yang pertama masalah harga. Yang kedua perbanyak mitranya agar masyarakat tidak merasa kebingungan harus menjual ke mana. Kalau hanya belasan mitra, saya rasa belum cukup untuk meng-cover mereka. Sampai harus antre berjam-jam,” katanya.

Selain persoalan harga dan pemasaran, Endang meminta sosialisasi mengenai aturan pertambangan dan mekanisme perdagangan timah dilakukan secara lebih intensif kepada masyarakat.

Ia juga mendorong PT TIMAH untuk memperkuat komunikasi langsung dengan masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait kebijakan maupun aktivitas pertambangan.

“Harus ada kepastian hukum. Masyarakat yang menambang merasa dilindungi dan dirangkul lebih dekat, disosialisasikan. PT TIMAH jangan takut turun ke masyarakat. Kalau merasa benar, jangan takut. Turun dan lebih dekatlah dengan masyarakat,” katanya.

Menurut Endang, komunikasi antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan menjadi penting agar kebijakan yang diterapkan dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat.

Di sisi lain, Endang mengingatkan masyarakat agar lebih kritis menyikapi informasi yang beredar di media sosial, terutama terkait persoalan pertambangan timah.

Menurut dia, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat masyarakat harus semakin cermat membedakan informasi yang benar dan informasi palsu.

“Sekarang zamannya AI. Kita harus bisa melihat mana berita yang hoaks dan mana yang benar-benar nyata. Jangan semuanya ditelan mentah-mentah. Jangan sampai informasi yang kita terima justru merugikan diri sendiri, orang lain, dan keluarga,” katanya.

Ia berharap masyarakat dapat memperoleh informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama menyangkut kebijakan pertambangan dan perdagangan timah.

Dengan demikian, kata Endang, persoalan ekonomi masyarakat, kepastian hukum, keberlangsungan aktivitas pertambangan dan komunikasi antarpihak dapat berjalan beriringan tanpa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.(*)

sumber: www.timah.com

banner nidia kcl.png