Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Pangkalpinang

Wali Kota Pangkalpinang dorong UMKM naik kelas melalui rumah produksi

×

Wali Kota Pangkalpinang dorong UMKM naik kelas melalui rumah produksi

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com — Wali Kota Pangkalpinang Saparudin mendorong pelaku usaha mikro di daerah itu naik kelas melalui pemberian stimulus permodalan yang dilanjutkan dengan pembentukan kelompok usaha dan pembangunan rumah produksi berbasis potensi wilayah.

“Stimulus ini untuk merangsang dan memberikan semangat kepada pelaku usaha mikro agar lebih giat menjalankan usahanya,” kata Saparudin seusai menyerahkan bantuan permodalan usaha kepada pelaku UMKM di Balai Besar Betason, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Senin (10/8).

admin-ajax.png

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 90 pelaku usaha mikro menerima bantuan permodalan masing-masing sebesar Rp1 juta.

Saparudin mengatakan bantuan tersebut merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi pelaku usaha yang memiliki kemauan, konsistensi dan kemampuan mengembangkan usahanya.

Para penerima bantuan nantinya akan dipantau perkembangannya untuk kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis usaha. Kelompok yang dinilai memiliki potensi akan mendapat dukungan lebih besar melalui fasilitas rumah produksi.

“Yang mikro ini kita jadikan embrio. Mereka yang punya keinginan kuat, semangat, mampu bekerja keras dan konsisten menjalankan usaha akan kita pilih untuk meneruskan kelompok-kelompok usaha yang lebih profesional dan lebih besar,” ujarnya.

Menurut Saparudin, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan modal. Pemerintah juga harus membangun ekosistem usaha yang mencakup produksi, sumber daya manusia, manajemen hingga pemasaran.

Karena itu, rumah produksi yang dibangun pemerintah akan diarahkan untuk menjadi pusat pengembangan kelompok UMKM sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.

“Kalau kita bikin rumah produksi tetapi tidak ada pembeli, percuma. Jadi harus ada off-taker-nya. Ketika ekosistem ini sudah dibangun, usaha ini akan bergulir,” katanya.

Ia mencontohkan, apabila sebuah rumah produksi hanya mampu menghasilkan satu ton produk sementara permintaan pasar mencapai dua ton, maka kondisi tersebut akan membuka peluang bagi kelompok UMKM lain untuk membangun rumah produksi baru.

Konsep tersebut mulai diterapkan melalui rumah produksi pengolahan nanas di Kelurahan Tuatunu. Bangunan fasilitas itu telah selesai, sedangkan sebagian peralatan masih dalam proses pengadaan melalui dukungan CSR.

Rumah produksi tersebut nantinya dikelola kelompok UMKM untuk mengolah nanas menjadi berbagai produk bernilai tambah. Salah satu produknya, yakni selai nanas, telah memiliki pembeli di luar daerah dengan pengiriman sekitar 500 kilogram per bulan ke Jawa Barat.

Pemkot Pangkalpinang juga menyiapkan pengembangan rumah produksi berdasarkan potensi wilayah. Kecamatan Girimaya diarahkan menjadi sentra produksi otak-otak, Bukit Intan untuk produk kerupuk, sedangkan kawasan Pangkalbalam dikembangkan sebagai sentra olahan ikan.

Pemerintah telah memiliki rumah produksi ikan giling di sekitar TPI Ketapang yang dapat memasok bahan baku bagi pelaku UMKM untuk membuat otak-otak, kerupuk, kemplang dan produk olahan lainnya.

Saparudin mengatakan pengelolaan rumah produksi nantinya akan melibatkan lintas organisasi perangkat daerah. Dinas Tenaga Kerja akan mendukung penyediaan tenaga kerja terlatih, sementara perangkat daerah yang membidangi perdagangan dan perindustrian berperan dalam pembinaan.

“Kita ingin rumah produksi ini terjaga manajemennya dan menjadi profesional,” katanya.

Ia menilai penguatan UMKM penting karena jumlah pelaku usaha di Pangkalpinang mencapai lebih dari 29 ribu unit.

Jika setiap UMKM menopang kehidupan tiga orang, kata Saparudin, aktivitas usaha tersebut secara tidak langsung memberikan penghidupan bagi sekitar 80 ribu warga atau sekitar sepertiga penduduk Kota Pangkalpinang.

“UMKM memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Kota Pangkalpinang. Karena itu, semakin banyak UMKM yang naik kelas, diharapkan masyarakat berpenghasilan rendah juga semakin berkurang,” ujarnya.

Selain pengembangan pasar domestik, Pemkot Pangkalpinang mulai mendorong produk UMKM memasuki pasar ekspor. Salah satu produk yang telah menembus pasar luar negeri adalah kricu yang dikirim ke Australia.

Pelaku usaha tersebut, kata Saparudin, telah memperoleh sertifikasi halal dan izin ekspor melalui pendampingan pemerintah.

“Harapan kita produk-produk UMKM Pangkalpinang bisa masuk ke pasar yang lebih luas, pasar nasional bahkan internasional,” katanya.(RE)

banner nidia kcl.png