Pangkalpinang, nidianews.com – Hampir 9.000 hektare lahan perkebunan sawit beroperasi di wilayah empat desa dan dua kecamatan di Bangka Barat. Namun, ketika masyarakat mempertanyakan hak plasma 20 persen, jawabannya belum juga terang.
Kontras itulah yang kini menjadi perhatian Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya. Perwakilan masyarakat Desa Air Belo, Belo Laut, Mayang, dan Air Belo mendatangi ruang kerjanya, Senin (14/9/2026), untuk mempertanyakan kepastian plasma dari PT GSBL.
Bagi Didit, persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebagai sekadar permintaan masyarakat kepada perusahaan. Ada kewajiban yang harus dijalankan perusahaan perkebunan.
“Ini bukan tuntutan masyarakat. Ini kewajiban perusahaan apa pun yang berinvestasi perkebunan sawit di Republik harus patuh dengan aturan. Maka 20 persen ini merupakan aturan pusat yang harus terpenuhi,” kata Didit.
Dengan kata lain, luas perkebunan hampir 9.000 hektare itu bukan sekadar angka. Di balik luasan tersebut terdapat kewajiban sosial-ekonomi yang menurut Didit harus dikembalikan kepada masyarakat melalui skema plasma.
Didit bahkan membawa contoh PT GML sebagai pembanding. Perusahaan tersebut telah mengakomodasi plasma 20 persen bagi masyarakat di delapan desa di Pulau Bangka.
“PT GML bisa kok, kenapa GSBL tidak bisa,” tegasnya.
Menurut Didit, keberhasilan PT GML justru menjadi modal penting bagi pemerintah daerah dan DPRD untuk mendorong PT GSBL segera mencari formula yang sama-sama menguntungkan masyarakat dan perusahaan.
Ia menyebut PT GSBL sebenarnya memiliki niat untuk memberikan plasma. Persoalannya, perusahaan dan masyarakat belum menemukan kesepakatan mengenai pola pelaksanaannya.
Karena itu, DPRD Babel akan mengambil langkah berikutnya dengan mengundang pihak perusahaan yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
“Kami akan segera mengundang pihak perusahaan. Untuk bisa berdiskusi supaya bagaimana PT GSBL ini memberi plasma yang sama kepada masyarakat seperti GML,” ujarnya.
Namun sebelum pertemuan digelar, Didit meminta masyarakat empat desa menyatukan suara. Pemerintah desa diminta duduk bersama untuk merumuskan pola plasma yang benar-benar diinginkan masyarakat.
“Bikin kesepakatan bersama antara pemerintah desa dengan desa, sehingga nanti ini sudah sifatnya keputusan masyarakat, bukan keputusan pemerintah desa,” katanya.
Bagi Didit, plasma bukan hanya soal kewajiban perusahaan, tetapi peluang untuk mengubah wajah ekonomi masyarakat sekitar perkebunan.
Ia mencontohkan, jika terdapat sekitar 400 hektare yang dapat menjadi bagian plasma masyarakat Air Belo dan diasumsikan menghasilkan Rp3 juta per hektare, maka potensi perputaran ekonomi bisa mencapai sekitar Rp1,2 miliar per bulan.
“Artinya keberadaan perusahaan berdampak positif kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menyadari perjuangan mendapatkan hak tersebut tidak sebentar. Bahkan, masyarakat disebut telah memperjuangkannya selama hampir tiga dekade.
Tetapi Didit memastikan DPRD Babel tidak akan berhenti pada audiensi.
“Walaupun perjuangannya hampir kurang lebih 30 tahun, kita tidak pernah lelah,” tegasnya.
Persoalan plasma kemudian melebar pada kondisi ekonomi masyarakat Bangka Belitung yang semakin bergantung pada sektor sawit. Didit meminta pemerintah daerah ikut menjaga stabilitas harga sawit karena dampaknya langsung terasa terhadap daya beli dan perputaran ekonomi masyarakat.
Di saat yang sama, ia menyoroti keluhan petani mengenai mahalnya harga pupuk.
“Harga sawit alhamdulillah sudah mulai baik, tapi tolong harga pupuk juga jangan meroket. Kasihan juga masyarakat,” katanya.
Menurut Didit, pemerintah tidak cukup hanya mengawasi investasi. Pemerintah juga harus memastikan keberadaan perusahaan perkebunan memberikan dampak nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Sebab, jika hampir 9.000 hektare perkebunan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang besar, masyarakat di sekitarnya juga tidak boleh hanya menjadi penonton.
Didit berharap pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, DPRD, masyarakat, dan perusahaan duduk bersama untuk mencari jalan keluar.
“Saya yakin jika semua perusahaan di Babel ini memberikan plasma kepada rakyat, ekonomi masyarakat Bangka Belitung akan menjadi the best di Indonesia,” pungkasnya.(RE)














