Scroll untuk baca artikel
banner nidia kcl.png
Example floating
Example floating
Baru.png
Politik & Parlemen

KTP di Tangan, Godaan Digital di Depan Mata! Eddy Iskandar Ingatkan Pelajar Jangan Terjebak Pinjol dan Judol

×

KTP di Tangan, Godaan Digital di Depan Mata! Eddy Iskandar Ingatkan Pelajar Jangan Terjebak Pinjol dan Judol

Sebarkan artikel ini

Pangkalpinang, nidianews.com – Usia 17 tahun bukan hanya soal mendapatkan KTP. Bagi generasi muda, fase tersebut sekaligus menjadi pintu masuk menuju dunia keuangan yang semakin mudah diakses lewat telepon genggam.

Di balik kemudahan itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Eddy Iskandar melihat ada ancaman yang tak boleh diremehkan: pinjaman online ilegal dan judi online.

admin-ajax.png

Pesan tersebut disampaikan Eddy saat reses gabungan anggota DPRD Babel Dapil Pangkalpinang bersama ratusan guru dan siswa SMA/SMK se-Pangkalpinang di SMKN 2 Pangkalpinang, Sabtu (12/9/2026).

Eddy menilai, pelajar yang baru memiliki KTP dan mulai dapat membuka rekening perlu mendapatkan bekal literasi keuangan sejak awal. Jangan sampai ketidaktahuan justru dimanfaatkan oleh berbagai layanan digital yang menawarkan kemudahan tetapi berujung masalah.

“Adik-adik pemula yang baru punya KTP, yang baru bisa buat rekening, agar terhindar dari hal-hal penggunaan aplikasi yang bertentangan dengan hukum,” kata Eddy.

Ia menyebut pinjaman online ilegal dan judi online sebagai contoh nyata yang harus diwaspadai generasi muda.

“Misalnya pinjaman online yang tidak betul, kemudian judi online, dan sebagainya, sehingga mereka bisa terhindar,” ujarnya.

Menurut Eddy, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menyimpan uang di rekening. Pelajar juga harus memahami bagaimana mengatur, memanfaatkan, dan menjaga uang yang mereka miliki.

Terlebih, program pembukaan rekening bagi anak yang memasuki usia 17 tahun diharapkan dapat menjadi momentum membangun kebiasaan finansial sejak dini. Rekening jangan hanya menjadi tempat menyimpan uang, tetapi juga sarana belajar mengelola keuangan secara bertanggung jawab.

Karena itu, DPRD Babel menggandeng OJK dan Bank Sumsel Babel dalam reses tersebut. Edukasi diberikan agar pelajar tidak hanya menjadi pengguna teknologi keuangan, tetapi juga memahami risiko di balik setiap kemudahan transaksi digital.

Eddy mengatakan reses gabungan Dapil Pangkalpinang dilakukan karena persoalan masyarakat tidak mengenal batas komisi. Dengan seluruh anggota dapil turun bersama, aspirasi yang dihimpun diharapkan dapat dilihat secara lebih utuh.

“Kami bisa menangkap secara utuh kebutuhan masyarakat, kemudian aspirasi masyarakat, dan memperjuangkannya menjadi program di pemerintah,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui tidak semua aspirasi bisa langsung direalisasikan. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam menerjemahkan seluruh usulan masyarakat menjadi program.

“Tidak semua apa yang disampaikan bisa diselesaikan secara seketika. Tapi secara bertahap mudah-mudahan ada dampaknya,” ujar Eddy.

Reses kali ini akhirnya tidak hanya menjadi ruang menyerap aspirasi, tetapi juga menjadi alarm bagi generasi muda. Di tengah semakin mudahnya akses keuangan digital, kemampuan membedakan peluang dan jebakan menjadi modal penting sebelum uang, utang, dan keputusan finansial berada di tangan mereka sendiri.(RE) 

banner nidia kcl.png